Metode membangun dinding dalam sepanjang sejarah Indonesia telah berubah, menyesuaikan dengan bahan baku yang ada supaya lebih ekonomis dalam membangun.
Traditional
Periode adat tradisional sebelum kolonialisme Belanda, pada masing-masing wilayah di Indonesia, sudah mengembangkan gaya arsitektur yang jelas. Desain rumah adat tradisional dapat mudah dikenali dari gaya atap rumah mereka.
Konstruksi dinding mirip dengan frame kayu dan panel kayu atau panel anyaman. Sayangnya, dinding kayu yang ringan tersebut tidak dapat bertahan lama dari waktu ke waktu, sehingga banyak rumah adat tradisional yang sudah tidak asli atau tidak bertahan lagi.

Banyak bangunan penting dibangun dari batu, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, atau Pura Hindu di Bali. Kapur, marmer, granit, dan batu keras lainnya dipotong secara akurat dan diletakkan tanpa celah. Blok batu tersebut disusun bersama-sama menggunakan sistem ikatan (interlocking), sehingga mempunyai kekuatan tinggi dan fleksibilitas untuk tahan terhadap gempa yang kuat — teknik yang dikenal sebagai stone “key joint”.

Heritage
Periode kolonial Belanda, tahun 1600–1942, memperkenalkan bangunan dinding dengan gaya Eropa. Gedung-gedung pemerintah dan pemilik perkebunan yang kaya menggunakan bata dari tanah liat dalam membangun dinding, setelah itu dinding diplester kemudian diaci/skimcoat.
Sistem dinding seperti ini bukan ditemukan oleh orang Romawi, tetapi insinyur merekalah yang mempelajari bagaimana membangun dinding menggunakan bata. Di Eropa, banyak dinding bata Romawi masih berdiri setelah 2.000 tahun. Di Indonesia, ada juga beberapa bangunan bata yang masih terawat dalam kondisi baik setelah 300 tahun.





Contemporary
Tidak banyak yang berubah setelah lebih dari 2.000 tahun sejak Romawi di Eropa membangun tembok batu bata dari tanah liat. Semen diperkenalkan ke perumahan pada tahun 1970-an, dan kolom praktis tahan gempa diperkenalkan pada tahun 1980-an.
Selama hampir 40 tahun terakhir, kualitas bangunan rumah kita sangat buruk, dengan banyak retak, kebocoran, dan tidak tahan lama sebelum jadwal renovasi.
10 tahun terakhir ada pengenalan generasi baru bahan bangunan dan persyaratan untuk kualitas yang lebih baik dalam membangun. Perubahan ini termasuk:
- Dinding bata ringan
- Mortar untuk thinbed, plester, dan acian (skimcoat)
- Gypsum board dan GRC board
- Atap baja ringan

Dalam waktu dekat, kita akan melihat produk baru lainnya seperti perekat lantai, waterproofing mortar, kaca dan sistem dinding aluminium, serta beton cetak (precast).


“Mortar is changing the quality standard of Indonesian building.”
Some Styles Last Forever
Beberapa gaya arsitektur klasik terbukti abadi — kolom Korintus Yunani dan lengkungan Romawi masih menginspirasi desain bangunan modern, ribuan tahun setelah pertama kali digunakan.


Produk Mortarplus
Meneruskan warisan arsitektur Indonesia dengan kualitas modern.

TR-30 Acian Putih
Mortar acian putih — bagian dari generasi baru bahan bangunan Indonesia, untuk hasil akhir dinding yang halus, kuat, dan tahan lama.
Kemasan: berat bersih 40 kg per sak.

MP-40 Bonding Agen & Tahan Air
Acrylic bonding agent — ditambahkan pada TR-30 untuk aplikasi di atas beton, atau untuk repair acian dengan daya rekat lebih kuat.
Kemasan: 1 kg jerigen (4/box) | 5 kg jerigen (2/box).
Oleh: Michael Bacon, B Build UNSW · www.mortarplus.com · WhatsApp 0816 789996
